Thursday, 27 October 2011

JANGAN BERSEDIH, TERKADANG KESULITAN MENGANDUNGI MANFAAT

William James mengatakan: ”Penderitaan telah membantu kita untuk mencapai suatu batas yang tidak pernah terbayangkan”. Andaikata Dostoyevsky dan Leo Tolstoy tidak mengalami kehidupan yang pahit keduanya tidak akan berhasil menulis memoir dan novel-novel yang mengagumkan dan abadi hingga saat ini. oleh kerana itu, hidup yatim, buta, terasing dan miskin terkadang menjadi penyebab keunggulan, kemampuan yang luar biasa, kemajuan dan karya nyata. Seorang penyair berkata: “Terkadang Allah memberikan nikmatNya berupa dugaan meskipun berat terasa, dan terkadang juga Allah menguji sebahagian orang dengan memberikan nikmatNya”.

Ibnu Atsir menulis buku-bukunya yang mempesona, seperti Jami’ Al-Ushul dan An-Nihayah dalam keadaan ia tidak boleh berjalan. As-Sarakhsi menulis bukunya yang terknal Al-Mabsuth yang berjumlah 15 jilid saat ia dipenjara di bawah tanah. Manakala Ibnu Qayyim menulis bukunya Zadul Ma’ad saat ia berada di dalam perjalanan. Al-Qurthubi menulis syarah untuk Sahih Muslim saat dia berada di atas perahu. Sedangkan kebanyakan dari fatwa-fatwa Ibnu Taimiyyah ditulis saat dia berada di dalam penjara. Para ahli hadis mengumpulkan ratusan ribu hadis saat mereka berada di dalam keadaan miskin dan terasing.
 
Seorang soleh memberitahukan bahawa dia pernah dipenjara, dan berhasil menghafalkan Al-Quran secara keseluruhan di dalam penjara, dan dapat membaca sebanyak 40 jilid buku. Abul Ala’ Al-Ma’arri mendiktekan (mengumpulkan) kumpulan sajaknya justeru saat dia buta. Thaha Husain buta, saat itu ia mulai menuliskan memoir dan buku-bukunya. Banyak orang bersinar jsuteru setelah melepaskan jawatannya keana setelah itu ia dapat me persembah kan ilmunya dan idea-ideanya secara optima dibandingkan ketika masih memangku jawatan.

Tuesday, 18 October 2011

JANGAN BERSEDIH, KERANA KELAPANGAN PASTI DATANG

(sambungan...)

Janganlah kita bersedih, kerana kesedihan itu akan membuat harta yang tersimpan di dalam gudang dan di istana-istana kita yang indah dan megah dan di dalam kebun-kebun kita yng menghijau itu hanya akan menambahkan kesedihan, kedukaan dan sifat putus asa kita sahaja. Jangan juga kita bersedih, apabila ubat-ubatan yang diberikan doktor dan ubat yang dijual di farmasi dan pemeriksaan seorang doktor tidak banyak membantu kita. Apalagi bila kita masih menanamkan rasa kesedihan di dalam hati, menggantungkan kesedihan di dalam kedua kelopak mata, membiarkan diri untuk dimasuki kesedihan itu dan menyusupkannya di bawah kulit, maka semua itu hanya akan sia-sia.


            Jangan kita bersedih, kerana kita masih memiliki doa, untuk kita bersimpuh di hadapan pintu-pintu Allah Yang Maha Kuasa, memohon agar diberikan ketenangan. Kita juga masih memiliki waktu sepertiga akhir malam sebagai waktu mustajab dan masih memiliki waktu untuk menyerahkan segalanya kepada Allah dalam sujud.

Jangan juga kita bersedih, kerana Allah telah menciptakan bumi dengan segala isinya untuk kita, telah menumbuhkan taman-taman yang memberikan pemandangan indah, kebun-kebun yang berisi tumbuh-tumbuhan yang indah, rimbun dan taman-taman dengan tumbuh-tumbuhan yang indah untuk kita, pohon-pohon kurma yang mempunyai mayang yang bersusun-susun dan menjulang tinggi, bintang-bintang yang bercahaya, hutan belantara dan sungai-sungai yang jernih mengalir. Jadi, mengapa kita masih bersedih?

Janganlah kita bersedih, kerana kita masih dapat meneguk air yang jernih, dapat menghirup udara yang segar, dapat berjalan di atas kedua kaki yang sihat dan di samping itu, kita juga masih dapat tidur dengan nyenyak di malam hari.


(Tamat)

JANGAN BERSEDIH, KERANA KELAPANGAN PASTI DATANG


Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmizi disebutkan bahawa: “Sebaik-baik ibadah adalah menunggu datangnya dari Allah (sambil bersabar tatkala tertipa musibah)”. Firman Allah s.w.t yang bermaksud: “…bukankah Subuh itu sudah dekat?” (Hud:81). Wahai orang-orang yang bersedih dan cemas, bangkitlah segera. Sesungguhnya matahari telah terbit dan sambutlah kemenangan yang dianugerahkan oleh Yang Maha Memberi Kemenangan. Sebuah pepatah Arab ada menyebutkan: “Jika seutas tali sudah sangat meregang, nescaya ia akan segera putus!” Maksudnya: Apabila suatu persoalan semakin rumit, maka tunggulah jalan keluarnya.

            Pepatah Arab ada menyebutkan: “Kepedihan yang selalu mendera pada saatnya nanti pasti akan pergi”. Pepatah lain berkata: “Begitu banyak orang yang lega setelah putus asa mendera, begitu bayak pula orang berbahagia setelah dia putus asa. Siapa pun yang berprasangka baik kepada pemilik ‘Arasy maka ia akan memetik buah manis di tepi sungai yang jernih”. Dalam sebuah hadis Qudsi ada menyebutkan: “Aku sesuai prasangka hambaKu terhadap diriKu, maka silakan dia berprasangka terhadap diriKu sesuai dengan kehendaknya”. Dalam pada itu, ada sebuah hadis menyebutkan: “Ketahuilah, bahawa pertolongan itu ada bersama dengan kesabaran dan kelapangan itu selalu bersama kesulitan”.

Seorang penyair berkata: “Jika persoalan terasa semakin menyesakkan tunggulah datangnya kelegaan. Kerana sesuatu yang paling dekat dengan persoalan yang menyesakkan adalah kelegaan”. Penyair yang lain berkata: “Sungguh aku telah menahan diri setelah Ibnu ‘Anbas, sedangkan air mata semakin mendesak untuk tercurah. Kebahagiaan pasti tiba orang yang jahat pasti tercela segala keburukan telah menimpa saatnya kelegaan menjelma”.

Ada juga penyair lain mengatakan: “Banyak mata terbelalak sementara yang lainnya terpejam. Di dunia nyata sesuatu bisa ada, bisa juga tiada. Maka lemparkan sekuat tenaga kesedihan hatimua hanya akan membuatmu menjadi gila. Sesungguhnya Tuhanmu telah menyiapkan apa yang kau perlukan esok hari dank au akan menjumpai kecukupan itu ketika kau menjalaninya”. Ada juga yang mengatakan: “Biarkanlah segala sesuatu itu mengalir seirama takdir. Jangan sekali-kali kau tidur kecuali tetap waspada. Saat kau kerdipkan matamu kau akan tercengang, ternyata Allah telah mengubah keadaan”.

(bersambung…)