William James mengatakan: ”Penderitaan telah membantu kita untuk mencapai suatu batas yang tidak pernah terbayangkan”. Andaikata Dostoyevsky dan Leo Tolstoy tidak mengalami kehidupan yang pahit keduanya tidak akan berhasil menulis memoir dan novel-novel yang mengagumkan dan abadi hingga saat ini. oleh kerana itu, hidup yatim, buta, terasing dan miskin terkadang menjadi penyebab keunggulan, kemampuan yang luar biasa, kemajuan dan karya nyata. Seorang penyair berkata: “Terkadang Allah memberikan nikmatNya berupa dugaan meskipun berat terasa, dan terkadang juga Allah menguji sebahagian orang dengan memberikan nikmatNya”.Ibnu Atsir menulis buku-bukunya yang mempesona, seperti Jami’ Al-Ushul dan An-Nihayah dalam keadaan ia tidak boleh berjalan. As-Sarakhsi menulis bukunya yang terknal Al-Mabsuth yang berjumlah 15 jilid saat ia dipenjara di bawah tanah. Manakala Ibnu Qayyim menulis bukunya Zadul Ma’ad saat ia berada di dalam perjalanan. Al-Qurthubi menulis syarah untuk Sahih Muslim saat dia berada di atas perahu. Sedangkan kebanyakan dari fatwa-fatwa Ibnu Taimiyyah ditulis saat dia berada di dalam penjara. Para ahli hadis mengumpulkan ratusan ribu hadis saat mereka berada di dalam keadaan miskin dan terasing.
Seorang soleh memberitahukan bahawa dia pernah dipenjara, dan berhasil menghafalkan Al-Quran secara keseluruhan di dalam penjara, dan dapat membaca sebanyak 40 jilid buku. Abul Ala’ Al-Ma’arri mendiktekan (mengumpulkan) kumpulan sajaknya justeru saat dia buta. Thaha Husain buta, saat itu ia mulai menuliskan memoir dan buku-bukunya. Banyak orang bersinar jsuteru setelah melepaskan jawatannya keana setelah itu ia dapat me persembah kan ilmunya dan idea-ideanya secara optima dibandingkan ketika masih memangku jawatan.


